2026-06-03
Waspada Kutu Caplak di Musim Semi! Pelajari Gejala dan Cara Pencegahannya
Pelajari gejala SFTS yang ditularkan oleh kutu caplak dan cara pencegahannya saat beraktivitas di luar ruangan selama musim semi hingga musim gugur.

Seiring dengan menghangatnya cuaca, aktivitas luar ruangan pun meningkat, namun risiko infeksi yang tidak terduga juga turut mengintai. Baru-baru ini, Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) mengoperasikan sistem pemantauan kutu caplak (hard tick) secara nasional setiap tahun dari April hingga November. Di Korea Selatan, sejak kasus pertama pada tahun 2013, akumulasi pasien telah dilaporkan mencapai lebih dari 2.300 orang.1) Dalam artikel ini, kita akan membahas karakteristik penyakit infeksi yang ditularkan melalui kutu caplak yang terus meningkat setiap tahunnya serta cara pencegahannya.
1) Yonhap News, ‘Waspada Kutu Caplak Saat Aktivitas Luar Ruangan di Musim Semi… Sistem Pemantauan Nasional Mulai Beroperasi’, 2026.

Pola Munculnya Kutu Caplak

Kutu caplak melewati siklus hidup larva, nimfa, dan dewasa, dengan karakteristik menumpang pada inang yang berbeda di setiap tahapannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kutu ini dapat menyebarkan virus Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) di semua tahap pertumbuhannya. Pola aktivitasnya menurut musim juga terlihat cukup jelas. Pada bulan April-Mei saat cuaca menghangat, nimfa mulai aktif, dan pada Juni-Juli mereka tumbuh menjadi dewasa dan bertelur. Selanjutnya, pada September-November, jumlah larva meningkat sehingga kepadatan populasi secara keseluruhan cenderung meninggi. Di Korea, berbagai spesies kutu caplak telah diidentifikasi, namun Haemaphysalis longicornis (kutu semak) dilaporkan menempati proporsi tertinggi. Karena kutu ini terutama hidup di padang rumput atau semak-semak, kemungkinan kontak dengan manusia sangat tinggi selama aktivitas luar ruangan seperti mendaki gunung, berkemah, dan bertani. Selain itu, akibat kenaikan suhu dan perubahan lingkungan baru-baru ini, periode aktivitas mereka cenderung menjadi lebih panjang. Oleh karena itu, ini bukan masalah yang terbatas pada waktu tertentu saja, melainkan situasi yang memerlukan kewaspadaan dan pengelolaan berkelanjutan dari musim semi hingga musim gugur.
Gejala SFTS dan Status Terkini di Korea

SFTS (Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome) adalah penyakit infeksi utama yang ditularkan ke manusia melalui kutu caplak. Gejala biasanya muncul setelah masa inkubasi sekitar 5 hingga 14 hari setelah digigit kutu yang terinfeksi. Pada tahap awal, sering kali disertai demam tinggi bersama dengan gejala pencernaan seperti mual, muntah, dan diare. Setelah itu, seiring dengan penurunan kadar trombosit dan sel darah putih, memar dapat mudah terjadi atau muncul kelemahan seluruh tubuh, dan pada beberapa kasus dapat menyebabkan penurunan fungsi organ. Dalam proses infeksi virus, risiko pendarahan meningkat karena penurunan trombosit, dan jika terjadi kelainan respon imun, kondisi dapat berkembang menjadi parah. Terutama bagi lansia atau mereka dengan penyakit penyerta, kecepatan perburukan gejala diketahui sangat cepat. Dalam laporan berita domestik, terdapat kasus di mana pasien SFTS kondisinya memburuk dengan cepat setelah dirawat di rumah sakit, menerima perawatan di ICU, hingga akhirnya mengalami kegagalan organ multipel.2) 2) Pharm News, ‘Aktivitas Kutu Caplak Musim Semi Dimulai, Himbauan Pencegahan SFTS’, 2026.
Karena kondisi fisik beberapa pasien dapat memburuk secara drastis dalam waktu singkat, pengenalan gejala pada tahap awal sangatlah penting. Mengingat hingga saat ini belum ada vaksin pencegah atau pengobatan spesifik, hal yang paling penting adalah menghindari infeksi itu sendiri. Jika muncul demam yang tidak diketahui penyebabnya atau gejala pencernaan setelah beraktivitas di luar ruangan, disarankan untuk segera mencari bantuan medis dengan mempertimbangkan kemungkinan paparan kutu, daripada hanya menganggapnya sebagai kelelahan biasa.
Apakah Ada Risiko Kutu Caplak di Taman Kota?

Mudah untuk berpikir bahwa taman kota relatif aman, namun belakangan ini kasus paparan kutu caplak di area pemukiman seperti Taman Hangang terus dilaporkan.3) Perubahan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan berkaitan erat dengan perubahan lingkungan. Seiring dengan perluasan ruang hijau perkotaan, jangkauan pergerakan hewan seperti rusa air, tikus liar, dan burung semakin luas, sehingga habitat kutu caplak pun merambah ke pusat kota. Meskipun di taman dengan rumput yang terawat baik, area semak di pinggiran taman, lapisan dedaunan kering, dan area teduh yang lembap dikenal sebagai lingkungan yang cocok bagi kutu caplak untuk hidup. 3) MBC Newsdesk, ‘Di Taman Hangang Juga… Kutu Caplak yang Menakutkan Berkerumun’, 2020.
Kutu caplak tidak berpindah tempat dengan sendirinya, melainkan menempel pada ujung rumput atau daun dan akan berpindah saat tersentuh oleh manusia atau hewan. Oleh karena itu, menggelar tikar langsung di atas rumput atau berjalan melewati semak-semak bersama hewan peliharaan dapat meningkatkan risiko paparan. Selain itu, ada laporan tentang kemungkinan paparan sekunder di mana kutu yang menempel pada bulu anjing setelah jalan-jalan berpindah ke pemiliknya. Maka dari itu, sangat penting untuk membiasakan aturan pencegahan dasar saat melakukan aktivitas luar ruangan sehari-hari seperti jalan-jalan atau piknik di taman kota.
Bolehkah Langsung Mencabut Kutu Caplak Jika Tergigit?

Jika tergigit kutu caplak, bolehkah langsung mencabutnya? Kesimpulannya, mencabut secara paksa dengan cara yang salah tidak disarankan, namun jika memungkinkan, sangat penting untuk mencabutnya dengan cepat menggunakan metode yang benar.
Karena kutu caplak menghisap darah dalam kondisi menempel kuat pada kulit, jika dicabut dengan cara ditarik atau diputar menggunakan tangan, bagian tubuh kutu mungkin tertinggal di kulit atau cairan tubuhnya dapat mengalir balik, yang meningkatkan risiko infeksi. KDCA menyarankan untuk menggunakan pinset guna menjepit bagian mulut kutu sedekat mungkin dengan kulit dan menariknya perlahan. Jika sulit dilepaskan atau ada bagian yang tertinggal, disarankan untuk mengunjungi fasilitas medis. Selain itu, ditekankan juga bahwa pencabutan yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan kulit atau infeksi sekunder. Oleh karena itu, jika menemukan kutu caplak, cobalah untuk mencabutnya dengan aman sejauh yang memungkinkan, namun jika sulit atau tidak sempurna, Anda harus mengunjungi fasilitas medis.
Tahap | Isi |
1 | Pastikan kutu menempel di kulit (jangan dicabut paksa) |
2 | Jangan ditarik atau diputar dengan tangan |
3 | Kunjungi fasilitas medis secepat mungkin |
4 | Lakukan pencabutan yang aman oleh tenaga medis |
5 | Disinfeksi dan perawatan luka setelah pencabutan |
6 | Amati gejala seperti demam, nyeri otot, diare dalam 2 minggu |
Aturan Pencegahan Gigitan Kutu dalam Kehidupan Sehari-hari
Kunci pencegahan SFTS adalah tidak tergigit kutu caplak. Untuk itu, diperlukan pengelolaan langkah demi langkah sebelum, selama, dan setelah beraktivitas, bukan sekadar kewaspadaan biasa. Selama beraktivitas, penting untuk mengurangi kontak langsung dengan padang rumput atau semak-semak, dan meminimalkan paparan kulit dengan mengenakan pakaian lengan panjang, celana panjang, topi, dan sebagainya adalah hal mendasar. Terutama, memasukkan ujung celana ke dalam kaus kaki dapat mengurangi akses langsung kutu ke kulit, dan penggunaan cairan penolak (repellent) kutu juga sangat membantu. Jika harus duduk di atas rumput, sebaiknya gunakan tikar, dan sebisa mungkin tetaplah berada di jalur setapak yang tersedia.
Selain itu, saat beraktivitas bersama hewan peliharaan, perlu untuk meminimalkan akses mereka ke semak-semak. Setelah beraktivitas, bersihkan kulit dengan mandi dan periksa dengan teliti bagian-bagian lipatan seperti di belakang telinga, ketiak, dan di belakang lutut. Pakaian sebaiknya segera dicuci untuk menghilangkan kutu yang mungkin masih menempel.
Klasifikasi | Isi Tindakan Utama |
Sebelum Aktivitas | Kenakan pakaian panjang, minimalkan paparan kulit, gunakan repellent |
Selama Aktivitas | Minimalkan kontak rumput, gunakan tikar, gunakan jalur setapak |
Setelah Aktivitas | Mandi, periksa tubuh, cuci pakaian |
Hanya dengan mematuhi aturan pencegahan dasar, risiko infeksi dapat diturunkan secara signifikan. Musim semi adalah waktu di mana aktivitas luar ruangan meningkat, namun di saat yang sama kemungkinan terpapar penyakit infeksi juga meningkat. SFTS adalah penyakit infeksi dengan tingkat fatalitas yang tinggi, namun juga merupakan penyakit yang paling efektif dicegah. Tindakan dasar seperti pengelolaan pakaian, pemilihan rute aktivitas, dan pemeriksaan setelah pulang ke rumah adalah metode pencegahan yang paling realistis dan efektif. Selain itu, karena taman kota atau aktivitas luar ruangan sehari-hari pun bukan lingkungan yang sepenuhnya aman, konsistensi dalam melakukan tindakan kecil adalah cara paling pasti untuk menjaga kesehatan.
- Referensi: KDCA (Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea)
https://www.kdca.go.kr/kdca/2848/subview.do?enc=Zm5jdDF8QEB8JTJGYmJzJTJGa2RjYSUyRjQyJTJGMzEwNzM2JTJGYXJ0Y2xWaWV3LmRvJTNG
Pertanyaan
Chaum Health Life Center 02-3015-5005 | Lantai 2/3 Chaum, 442 Dosan-daero (Cheongdam-dong 4-1), Gangnam-gu, Seoul
